“Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia…”
Ada seorang mystik besar yang hidup pada abad 13, namanya Raymond Lull(us). Dia menulis sebuah buku berjudul yang mencinta dan yang dicinta.Dia mengalami bagaimana seorang gadis bernama Narrita sedang mabuk cinta kepada pujaan hatinya. Dan satu saat sang mystikus Raymond bertanya “katakan kepadaku, Narrita, apa yang akan kau buat saat sang pujaan hatimu tidak lagi mencintai dirimu?” Narrita dengan keyakinan menjawab: “saya akan tetap mencintai, agar saya tidak mati. Sebab saya yakin, cinta adalah kehidupan dan berhenti mencintai berarti berhenti hidup alias mati.”
Cinta adalah nafas kehidupan yang menjadikan hidup itu penuh gairah, penuh pesona, penuh dinamika, penuh kegembiraan.
Dan membenci/berhenti mengasihi adalah hembusan kematian yang membuat hidup itu terhempas dalam kegelapan, penuh kekalutan dan berhenti bersinar.
“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu.”
Agama sejati selalu terletak dalam mencintai Tuhan yang diimani di atas segala sesuatu. Kasih kepada Tuhan, haruslah kasih yang total (dengan segenap jiwa-raga), cinta yang sungguh meresapi seluruh cita rasa, mengarahkan pikiran dan menjiwai serta mendinamisir segala perbuatan kita. Dan kita harus mencintai Tuhan, karena Tuhan adalah Kasih Sejati yang mencintai orang-orang pilihanNya yang tertindas dan terlantar dengan kasih tak terhingga. Dialah Tuhan yang lebih dahulu mencintai kita dan yang meminta kita mencintaiNya dengan kasih yang sepadan.
“Kasihilah sesamam manusia seperti dirimu sendiri.”
Hanya kalau kita mencintai Allah secara benar, saudara/i kitapun sungguh kita cintai dan hargai seperti Tuhan mencintai dan menghargai mereka. Hanya kalu kita mengalami kasih Allah yang begitu memikat dan mempesona hati ktia, kita juga akan mencintai saudara/ri kita dengan cinta yang mempesona pula.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu dan kasihilah sesamamu,…”
Kita masih hidup dalam dunia yang diliputi krisi dan erosi nilai termasuk krisis dan erosi cinta. Banyak keluarga kita mengalami disharmony dan broken-home, lantaran cinta yang semula membara perlahan-lahan jadi pudar dan redup, layu dan mati atau berubah menjadi cinta yang buta alias kebencian.
Masyarakat kita sering dihantui teror dan kerusuhan, pertikaian dan permusuhan karena memang kita belum mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa-raga, kita belum mengalami sepenuhnya bagaimana kasih Tuhan itu menjamah hati kita, menyembuhkan luka-luka kemanusiaan kita.
Mari kita belajar kembali mencintai Tuhan dan sesama, seperti Tuhan telah mengasihi kita dengan kasih yang sunggh menghidupkan dan menyelamatkan.
LD@
Ada seorang mystik besar yang hidup pada abad 13, namanya Raymond Lull(us). Dia menulis sebuah buku berjudul yang mencinta dan yang dicinta.Dia mengalami bagaimana seorang gadis bernama Narrita sedang mabuk cinta kepada pujaan hatinya. Dan satu saat sang mystikus Raymond bertanya “katakan kepadaku, Narrita, apa yang akan kau buat saat sang pujaan hatimu tidak lagi mencintai dirimu?” Narrita dengan keyakinan menjawab: “saya akan tetap mencintai, agar saya tidak mati. Sebab saya yakin, cinta adalah kehidupan dan berhenti mencintai berarti berhenti hidup alias mati.”
Cinta adalah nafas kehidupan yang menjadikan hidup itu penuh gairah, penuh pesona, penuh dinamika, penuh kegembiraan.
Dan membenci/berhenti mengasihi adalah hembusan kematian yang membuat hidup itu terhempas dalam kegelapan, penuh kekalutan dan berhenti bersinar.
“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu.”
Agama sejati selalu terletak dalam mencintai Tuhan yang diimani di atas segala sesuatu. Kasih kepada Tuhan, haruslah kasih yang total (dengan segenap jiwa-raga), cinta yang sungguh meresapi seluruh cita rasa, mengarahkan pikiran dan menjiwai serta mendinamisir segala perbuatan kita. Dan kita harus mencintai Tuhan, karena Tuhan adalah Kasih Sejati yang mencintai orang-orang pilihanNya yang tertindas dan terlantar dengan kasih tak terhingga. Dialah Tuhan yang lebih dahulu mencintai kita dan yang meminta kita mencintaiNya dengan kasih yang sepadan.
“Kasihilah sesamam manusia seperti dirimu sendiri.”
Hanya kalau kita mencintai Allah secara benar, saudara/i kitapun sungguh kita cintai dan hargai seperti Tuhan mencintai dan menghargai mereka. Hanya kalu kita mengalami kasih Allah yang begitu memikat dan mempesona hati ktia, kita juga akan mencintai saudara/ri kita dengan cinta yang mempesona pula.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu dan kasihilah sesamamu,…”
Kita masih hidup dalam dunia yang diliputi krisi dan erosi nilai termasuk krisis dan erosi cinta. Banyak keluarga kita mengalami disharmony dan broken-home, lantaran cinta yang semula membara perlahan-lahan jadi pudar dan redup, layu dan mati atau berubah menjadi cinta yang buta alias kebencian.
Masyarakat kita sering dihantui teror dan kerusuhan, pertikaian dan permusuhan karena memang kita belum mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa-raga, kita belum mengalami sepenuhnya bagaimana kasih Tuhan itu menjamah hati kita, menyembuhkan luka-luka kemanusiaan kita.
Mari kita belajar kembali mencintai Tuhan dan sesama, seperti Tuhan telah mengasihi kita dengan kasih yang sunggh menghidupkan dan menyelamatkan.
LD@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar