Minggu, 02 September 2012

KERELAAN MEMBERI SELURUH DIRI, Mat 16, 21-27

Pesan pokok “kerelaan untuk memberi seluruh diri.” Untuk mendalami pesan pokok ini, kita perhatikan hanya 3 ayat: ay 24, 25, 26. Kita ambil satu per satu:Ay 24: Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Ayat ini menyatakan bahwa “salib adalah hakekat menjadi orang Kristen. Orang Kristen yang takut salib, yang risi terhadap salib, yang lari dari salib, sebenarnya tidak layak menyebut dirinya pengikut Kristus. Salib adalah panggilan hidup, undangan tetap untuk juga menjadi saksi Kristus sampai di atas salib. Itulah inti hakiki kehidupan Gereja Kristus. Waktu St. Paulus dimasukkan dalam penjara karena menjadi saksi Kristus dia menulis kepada jemaat di Flp: “Kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.“ (Flp 1, 29). Ini berarti tanpa salib berupa korban diri, kerelaan untuk memberi diri, hidup Gereja tidak ada arti, non sense.


Pilihan jalan hidup Yesus ini memang menjadi batu sandungan bagi banyak orang yang dijiwai materialisme, liberalisme dan hedonisme. Dalam pandangan dunia normal, tujuan hidup manusia adalah mencari kebahagiaan dan untuk ini segala kondisi dan sumber penderitaan harus dilenyapkan. Bagi orang-orang dunia ini, “memanggul salib“ atau menerima penderitaan sebagai bagian dari hidup adalah suatu kebodohan dan apatisme yang naif. Tetapi Yesus selalu dengan tegas mengatakan:”Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Untuk memahami cara berpikir Allah ini/memahami Yesus, Paulus menganjurkan “Pembaharuan budi”. Artinya merubah pandangan hidup total, mengganti persepsi dengan cara mengambil alih cara berpikir ilahi. Pertama-tama orang perlu menghalau ilusi hidup bahagia yang serba instan dan menerima realita bahwa hidup siapapun takkan pernah lepas dari berbagai bentuk penderitaan. (menjadi pemimpin:lewat didikan keras, pelatihan hal-hal praktis dalam hidup, wajib untuk tidak lakukan hal-hal tertentu meski ia sangat menyukainya, Seorang pengusaha sukses, Atlet olah raga yang menang butuh latihan keras, dsb. Setiap perjuangan untuk mencapai sesuatu sebenarnya adalah sebuah “jalan salib’ yang harus dilalui untuk sampai kepada puncak.


Ay 25: “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.“ Ada paralelisme kata yang bertentangan “menyelematkan nyawa – kehilangan nyawa“ dan “kehilangan nyawa – memperoleh nyawa.“ Kehidupan sendiri membuktikan, siapapun yang berani dan rela memberikan yang paling bernilai dalam kehidupan, yaitu hidup sendiri, ia akan memperolehnya. Tuhan Yesus sendiri membuktikan ini: Ia menyelamatkan kita justru dengan mati, mengorbankan hidupNya. Sedangkan Pilatus, Herodes, dan semua pembesar, serta semua orang yang mau bertahan mati-matian dengan hidupnya, akhirnya kehilangan hidup sejati. Para murid yang kemudian menjadi martyr, bahkan orang-orang terkenal yang rela korbankan diri, menjadi saksi dan bukti hidup, bahwa kehidupan yang rela diberikan kepada Allah, akan diperoleh kembali secara berlimpah-limpah.


Ay 26: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apa yang dapat diberikan kepadanya sebagai ganti nyawanya?“ Inilah tema kesayangan dari pilihan radikal Yesus untuk memberi diriNya demi keselamatan banyak orang. Tidak ada apapun yang lebih berharga daripada kerelaan memberi diri seluruhnya bagi keselamatan sesama dan bagi kemuliaan Tuhan.Pemberian diri, donasi diri dengan sukarela adalah nilai tertinggi, nilai paling luhur dan paling agung yang Kristus sudah lakukanuntuk kita dan sekarang Dia minta kita untuk melakukannya dalam praktek hidup kita setiap hari. Saya ingin tanya: ini hal ringan, enteng, gampang atau mudah dilakukan atau sebaliknya berat dan sulit? Ingat: hal-hal tersulit yang kita lakukan dalam hidup, itulah yang memuliakan diri kita sebagai manusia. Cerita ini bisa beri contoh: Sekelompok orang disuruh untuk pindahkan batu karang yang sangat tinggi dan sangat berat, rupanya untuk mendirikan Gereja mereka karena tidak ada tempat lain. Mereka kerja, kerja, kerja keras, dan batu tidak pernah pindah dan rupanya gedung Gereja tidak pernah didirikan. Tapi apa hasilnya? Setelah itu mereka semua rasa lebih enteng kerja di kebun dan di tempat kerja, karena otot mereka menjadi lebih kuat dan mental mereka untuk menghadapi tantangan hidup lebih membaja.


Mari kita tanya diri: saya ini kristen besi baja atau kristen kayu lapuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar