Senin, 03 September 2012

SALING TEGURLAH SEBAGAI SAUDARA

Nabi Yehesekiel diangkat Tuhan “menjadi penjaga kaum Israel.” Tugasnya:siap-siaga untuk mendengarkan Firman Tuhan dan memperingatkan para pendosa agar bertobat demi memperoleh keselamatan. Kalau tugas ini dilalaikan sehingga orang itu mati karena dosanya, Sang Nabi sendiri akan dituntut pertanggung-jawabannya atas nyawa orang berdosa yang mati itu.


Inilah tugas kenabian yang paling berat: memperingatkan orang berdosa supaya bertobat, seringkali berarti harus berani menantang orang, melawan arus, dan karena itu Nabi itu sendiri akan dilawan dengan gigih. Dalam sejarah terbukti bahwa banyak Nabi dibunuh karena menjalankan tugas kenabian ini. Kalau orang berdosa itu lebih berkuasa dan mau bertahan dalam kedosaannya, biasanya Nabi sendiri yang harus mati. Maka panggilan dan tugas kenabian itu sungguh berat dan menantang. Tinggal sekarang dia pilih: atau taat kepada Allah, atau taat kepada manusia.

Injil mencatat hal yang sama, yaitu nasehat persaudaraan yang harus dibuat oleh seorang Pimpinan Gereja Setempat yang dijalankan secara pribadi, di bawah 4 mata. Kalau tidak berhasil, panggil lagi beberapa orang saksi, agar perkara itu tidak disangsikan. Ini berarti nasehat persaudaraan di dalam kelompok orang-orang yang dipercayai untuk menyelesaikan suatu soal. Kalau tahap inipun gagal, persoalan itu baru dibawa kepada jemaat, seluruh umat. Di sini Gereja sebagai pribadi, kelompok dan keseluruhan, memiliki kuasa untuk mengikat dan melepaskan, yaitu mendesak orang agar memperbaiki yang salah. Kalau orang mendengarkan dan mengikuti, iapun telah memperoleh keselamatan, memperoleh nyawanya. Jika tidak, ia akan kehilangan nyawa, mati dalam dosa.


Ada 2 hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, kita harus berani untuk katakan yang salah dan katakan yang benar. Seringkali kita takut karena nanti dicaci-maki, dimusuhi, dicap sebagai show suci, show benar, show baik, dll., lalu orang yang ditegur kembali katakan “Lu juga sama ke beta, lihat diri dulu, baru omong beta!“ Kalau kita takut dan tidak berani tegur sehingga orang tidak sadar akan kesalahan dan dosanya, dia memang akan mati, tapi kita sendiri akan diminta tanggungjawab! Kita tidak bisa cuci tangan seperti Pilatus! Sambil berkata enteng: “Aku tidak bersalah atas darah orang itu.“

Kedua, kita harus sadar, kita semua adalah orang-orang berdosa, seperti Nabi-Nabi dan Rasul-rasul, Raja-raja dulu yang dipanggil dan dipilih Tuhan, tidak ada yang benar dan suci. Semuanya manusia biasa, orang berdosa. Justru karena berdosa, maka mereka harus saling menasehati. Jadi kita tidak usah tunggu bahwa orang harus suci- murni, masuk surga dulu, kembali dari dunia orang mati dulu, baru dia berhak menasehati kita. Kita perlu sadar, kalau orang menasehati kita secara jujur dan tulus ikhlas, itu tanda bahwa dia memperhatikan kita, prihatin dengan kita, bermaksud baik dengan kita. Kita perlu tanggapi dengan sikap positif. Biasanya orang yang tidak mau menegur dan tidak mau ditegur, adalah orang egoist, ingat diri, sibuk hanya dengan diri sendiri, dan biasanya orang yang tidak tahu diri. Orang egoist seperti ini, biasanya penakut tapi sombong. Dan kita tahu dari St. Yohanes, orang yang takut biasanya tidak sempurna dalam kasih. Dan orang yang sombong tidak pernah berkenan pada Tuhan.


Supaya jangan kita jadi orang egoist yang takut dan sombong, mari kita melatih diri untuk saling membangun dalam kasih persaudaraan sebagaimana dikehendaki Tuhan dari kita, umatNya. Teguhkanlah satu terhadap yang lain di dalam Tuhan, karena Tuhan mencintai kita dan menghendaki kita hidup benar di hadapan hadiratNya. Amin.

LD@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar