Ku
ucapkan selamat Pesta Natal untuk anda sekalian.
Hari
ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Yesus Putera Allah telah lahir,
dibesarkan dalam keluarga Nazareth. Kehadiran Yesus sungguh bermakna, bahkan memberi nilai plus, yakni
sebuah kehadiran yang menyucikan dan menyelamatkan. KehadiranNya adalah sebuah
kehadiran berkesadaran, yang mampu menghubungkan keluarga Nazaterh dengan
Allah, menjadikannya tempat dan suasana terbinanya ketaatan kepada Allah.
Apakah
keluarga-keluarga kita sungguh diupayakan menjadi tempat terbinannya kesadaran
akan Allah yang menyelamatkan? Atau keluarga-keluarga kita telah sedemikian
merosot dan kehilangan makna,
karena tidak lagi menjadi taman pemsemaian kasih dan kesadaran?
Kisah
Hana dan Elkana adalah kisah kesadaran insan-insan fana yang ingin mengembalikan
kepada Tuhan apapun yang telah diterima. Mereka tergugah oleh goresan Pemazmur:
“Sesungguhnya anak-anak lelaki adalah milik pusaka Allah dan buah kandungan
adalah upah dari yang Mahakudus” (Mzr 127:3). Kesadaran mendalam ini telah
mendorong Hana melakukan tindakan iman paling mengesankan: “Nanti apabila anak
itu sudah kusapih, akan ku antar dia menghadap kehadirat Tuhan dan tinggal di sana seumur hidupnya.”
Inilah
model keluarga beriman yang dibangun menjadi persekutuan kasih, taman
persemaian kesadaran iman, taman pesemaian kesetiaan kepada Allah, sumber
kehidupan sejati. Keluarga yang tahu mengembalikan dengan ikhlas segala yang
telah diterima dari tangan Tuhan, karena sadar bahwa Tuhanlah Pemilik dan
Penguasa tunggal segala sesuatu, termasuk anak-anak yang paling dicintai dalam
hidup masing-masing anggota keluarga.
Keluarga
Kudus Nazareth yang kita rayakan hari ini adalah keluarga yang toleran tanpa
kehilangan kontrol atas iming-iming kebebasan yang menyesatkan. Mereka cemas
karena Yesus si pemuda tunggal sesat jalan, hilang dan terancam oleh segala
kemungkinan.
Maria
dan Yoseph adalah contoh teladan orang tua yang telaten mencari anaknya untuk
dibawa pulang ke rumah, tetapi mereka adalah juga teladan orang-orang beriman
yang tahu menghargai mysteri Allah. “Dan IbuNya menyimpan semua perkara itu di
dalam hatinya.” Inilah keluarga Kudus yang tahu menempatkan Yesus dan perkara
Allah sebagai sentrum/fokus kehidupan. Inilah keluarga yang belajar menimba
inspirasi iman dari Allah yang hadir dalam diri Sang Putera. Dan Yesus adalah
anak yang tidak menyia-nyiakan kesadaran nuraniNya untuk mencari kesenangan dan
mengikuti mauNya sendiri. “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah
BapaKu?”
Karena
kesadaranNya untuk selalu tinggal di rumah Bapa, menghayati kesatuan
keAllahanNya dengan Bapa, maka Dia-Yesus menjiwai keluargaNya dengan segala
berkat dan rahmat surgawi dan menjadikan keluargaNya kudus.
Pertanyaan
bagi kita: apakah keluarga-keluarga kita yang dibangun atas dasar sakramen
Perkawinan, sungguh menjadi tempat kudus yang bersumber pada kasih Allah, atau
telah merosot menjadi tempat kebencian karena hidup yang makin tidak sepadan
dengan makna sakramen perkawinan?
Apakah
ibu dan bapak telah belajar memberi
kepada Tuhan apa yang menjadi milikNya tanpa semangat do ut des?
Apakah
anak-anak di rumah cukup sadar untuk menjadikan hidup dan dirinya sebagai
sumber rahmat dan berkat bagi keluarga, atau sumber laknat dan aib akibat salah
menggunakan segala potensi diri sehingga menjauhkan diri dan keluarga dari
Tuhan?
Di
Israel ada laut mati. Katanya dia mati karena berada ± 400
m di bawa permukaan laut dengan kadar garam tinggi dan walaupun selalu dialiri
oleh sungai Yordan, dia tidak pernah penuh untuk meluap supaya membagi air ke
daerah sekitar. Singkatnya, dia mati karena mengambil semua air
untuk diri sendiri, tidak sadar untuk membagi dan memberi. Kiranya
keluarga-keluarga kita tidak menjadi seperti laut mati dan akhirnya jadi
keluarga mati !
Amin…………….
LD@
LD@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar